Jumat, 29 Agustus 2014

SESUNGGUHNYA....'JIN' PUN TIDAK TAHU HAL YANG GHAIB




Oleh  :  pak Agus Balung
Maka tatkala Kami telah menetapkan kematian Sulaiman, tidak ada yang menunjukkan kepada mereka kematiannya itu kecuali rayap yang memakan tongkatnya. Maka tatkala ia telah tersungkur, jin baru mengetahuinya. Kalau sekiranya mengetahui hal yang ghaib tentulah mereka tidak tetap dalam siksa yang menghinakan.” (QS. Saba’: 14).
Suatu ketika  seseorang yang mengaku sebagai ‘orang pintar’ mendatangai seorang ustadz/kyai kecil, namanya ustadz Amir,  seorang ustadz  tak ternama dikampung terpencil disudut pelosok Jawa Timur.  Orang tersebut mengaku punya kemampuan untuk menerawang atau tembus pandang. Apabila melihat wanita yang ada di depannya, dia bisa melihat apa saja yang dibalik bajunya (telanjang bulat). Bahkan bila ada orang yang mandi di kamar mandi. Dia mengaku bisa melihat tubuh orang tersebut dari balik tembok. Apa yang dialaminya itu dianggap aneh oleh teman-temannya dan merupakan suatu kelainan. Dengan kemampuannya itu dia ingin menjajal kemampuan ustadz  kita.
Setelah tanya ke sana kemari, orang  pintar itu berhasil menemui ustadz Amir,   ‘orang pintar’ yang mengaku sempat tidak shalat lima waktu selama empat bulan itu bercerita bahwa dirinya telah mencoba menerawang dan mendeteksi keberadaan Ustad sebelum mendatanginya, tapi selalu gagal, padahal biasanya selalu tembus dan berhasil. Berarti kali ini jin yang ia miliki tidak bisa memberikan sinyal alias blank.
Itulah kisah perhelatan anak manusia yang berkolaborasi dengan jin, untuk menyibak hal-hal yang tidak tampak dari pandangan manusia biasa. Setiap yang dibisikkan oleh jinnya selalu dipercaya, setiap apa yang diperintahkannya selalu ditaati. Memang dalam realita praktik perdukunan, di antara mereka ada yang berhasil atau apa yang diomongkan si dukun cocok dengan fakta yang terjadi. Tapi banyak sekali yang gagal dan menyimpang dari realita, seperti sepenggal kisah di atas. Kalau begitu realitanya, benarkah imej masyarakat luas bahwa jin itu makhluk ghaib yang mengetahui segala hal-hal yang ghaib? Marilah kita mencari jawabannya dalam  syari’at islam.
Jin juga seperti manusia, tidak mengetahui hal yang ghaib
Secara umum jin itu seperti manusia,  mereka juga tidak mengetahui hal yang ghaib sebagaimana manusia. Kelemahan itu diakui sendiri oleh jin, Dan sesungguhnya kami tidak mengetahui apakah keburukan yang dikehendaki bagi orang yang di bumi, ataukah Tuhan mereka menghendaki kebaikan bagi mereka. (QS.Al-Jin: 10).
Keghaiban yang ada dalam kehidupan kita ada empat jenis, sebagian bisa diketahui oleh jin dan manusia dengan usaha-usaha mereka, dan sebagian lain tidak bisa dijangkau oleh mereka. Ragam dari keghaiban itu sebagai berikut:
1. Al-Ghaibul Maadhi  (Ghaib karena sudah berlalu), yaitu segala sesuatu atau kejadian yang terjadi pada zaman dahulu, yang mana kita tidak hidup sezaman dengannya sehingga kita tidak bisa melihat keberadaannya Sebenarnya keghaiban jenis ini bukan suatu ghaib yang tidak bisa diindra, tetapi karena keterbatasan indra kita untuk melihatnya dan karena berlalunya waktu, akhirnya masuk kategori ghaib.
Keghaiban jenis ini bisa ditembus oleh jin dan kroninya, ataupun manusia itu sendiri. Misalnya, telah terjadi perang Diponegoro dan pasukannya melawan penjajah Belanda. Bagi orang yang lahir setelah kemerdekaan negeri ini 1945, perang Diponegoro adalah kejadian yang ghaib, karena keladian itu terjadi beberapa tahun silam.
Kita sebagai manusia yang lahir setelah Tahun 1945 bisa melihat kejadian perang tersebut dengan melihat film documenter atau dengan membaca sejarahnya. Kalau ada dukun yang lahir setelah tahun 1945 bercerita tentang kejadian tahun 1900, jangan heran. Karena dia dapat informasi tersebut dari jin perewangannya. Karena umur jin memang relatif lebih lama bila dibanding umur manusia. Atau jin itu bertanya kepada jin-jin seniornya yang dahulunya sebagai saksi hidup atas kejadian tahun 1900 tersebut. Atau bisa jadi dukun itu baca buku sejarah atau dapat cerita turun temurun dari nenek moyangnya.
2. Al-Ghaibul Hadhir (Ghaib yang terjadi sekarang), yaitu segala sesuatu yang ada atau kejadian yang terjadi pada zaman sekarang tapi ghaib bagi kita. Karena jauhnya keladian dari posisi kita atau karena pandangan kita terhalang untuk bisa mengetahui kejadian itu.
Keghaiban jenis ini bisa dijangkau oleh jin ataupun manusia. Misalnya, ada seseorang yang datang ke dukun untuk mencari solusi dari permasalahan hidup yang menghimpitnya (usaha ini dilarang oleh lslam). Begitu orang itu masuk rumah dukun, si dukun langsung menebak dan membeberkan maksud orang sebut sebelum orang berkata sepatah katapun.
Padahal orang tadi rumahnya sangat jauh dengan tempat tinggalnya dukun, tapi apa yang dikatakan dukun ternyata persis dan tidak melenceng. Janganlah heran, karena jin piaraan dukun telah bertanya atau diberitahu oleh jin qarin (pendamping) orang tersebut. Lalu dibisikkan ke telinga dukun, dan dukupun nyerocos menebak maksud dari pasiennya yang datang.
Bisa juga dengan cara yang sangat sederhana, yaitu dengan mencari informasi dari orang orang bayaran yang telah disebarnya, yang bisa jadi orang tersebut kerabat pasien itu sendiri. Apalagi pada zaman sekarang, telepon rumah atau HP sudah banyak, bisa saja dukun itu telah dapat informas dari para intel yang telah disebarnya seputar makud dari pasien yang datang melalui telepon rumah atau HP nya.
Ada juga teman yang pernah mendengar cerita seperti itu langsung dari mantan korban tipu daya dukun yang ber sekongkol dengan kerabatnya sendiri.
3. Al-Ghaibul Istantaji (Ghaib yang bisa diprediksi), yaitu suatu kejadian yang belum terjadi tapi bisa diketahui hasilnya dari pengamatan dan analisa atas fenomena, lalu ditarik kesimpulannya sesuai hukum sebab akibat.
Keghaiban jenis ini juga bisa ditembus oleh jin, ataupun manusia biasa. Karena keghaiban ini berkaitan erat dengan hukum alam sebab akibat yang sudah diciptakan oleh Allah. Misalnya, orang yang normal kesehatannya dan pada suatu malam dia tidak tidur semalam suntuk. Kemudian ada temannya mensatakan. “Besok pagi kamu pasti ngantuk deh”. Setelah paginya datang, ternyata orang tersebut ngantuk berat. Dalam hal ini bukan berarti temannya tadi tahu sesuatu yang akan terjadi (ghaib), tapi itu adalah hasil dari sebab yang ada, yang secara sunnatullah akan berakibat seperti itu. Jadi, ngantuk yang akan dialami orang yang begadang semalaman itu adalah hal yang ghaib, karena belum terjadi dan hasilnya belum bisa dilihat oleh mata kita. Tapi setelah rasa ngantuk betul-betul menyerang orang tersebut, maka terbuktilah apa yang diucapkan temannya tadi. Walaupun bisa saja orang yang begadong tadi melakukan suatu aktifitas atau minum ramuan tertentu yang bisa menahan rasa kantuk atau menghilangkannya untuk mematahkan kesimpulan yang telah diambil olel temannya.
Begitulah jenis ghaib yang satu ini, kesimpulan yang dihasilkan berdasarkan ghalabatidl dlan (perkiraan yang lazim terjadi) dan bukan berdasarkan atas kepastian yang harus terjadi atau tidak bisa dihindari.
Ketiga jenis keghaiban diatas sering juga disebut dengan ghaib nisbi atau semu dan relatif, karena sebenarnya tidak masuk dalam kategori ghaib. Hanya karena keterbasan indra manusia saja, akhirnya manusia tidak bisa menembus dimensi ruang dan waktu. Tapi dengan cara-cara tertentu manusia terkadang bisa juga untuk mengetahui keghaiban yang nisbi, entah itu densan menggunakan peralatan teknologi modern atau dengan cara mistik dan sihir yang dilarang lslam. Apalagi jin, yang memang struktur tubuhnya berbeda dengan manusia dan bisa bergerak cepat, lebih cepat dari gerakan manusia. Maka sangatah mudah bagi mereka untuk menembus tiga jenis keghaiban di atas.
4. Al-Ghoibul Muthlaq (Ghaib yang benar-benar ghaib), atau sering juga disebut dengan Ghaib Hakiki. Yaitu, sesuatu yang ada atau peristiwa yang betul-betul terjadi, tapi panca indra kita tidak mampu menjangkau keberadaannya atau menangkap kronologi kejadiannya. Misalnya, Allah itu ada, tapi panca indra kita tidak pernah bisa melihat keberadaan-Nya. Manusia dengan alat secanggih apapun tidak akan bisa melihat keberadaan Allah. Begitu juga jin, dengan cara apapun mereka tidak akan bisa melihat Allah.
Keghaiban jenis ini hanya diketahui oleh Allah, tidak ada seorang pun dari makhluk-Nya yang bisa mengetahuinya kecuali para Rasul yang telah diberi wahyu tentang keghaiban tersebut. Atau malaikat yang diberi amanah untuk menyampaikan wahyu itu kepada para rasul-Nya.
Termasuk keghaiban yang tidak diketahui jin adalah datangnya ajal pada seseorang. Misalnya, kematian Nabi Sulaiman. Allah berfirman, Maka tatkala Kami telah menetapkan kematian Sulaiman tidak ada yang menunjukkan kepada mereka kematiannya itu kecuali rayap yang memakan tongkatnya. Maka tatkala ia telah tersungkur, jin baru mengetahuinya. Kalau sekiranya mengetahui hal yang ghaib tentulah mereka tidak tetap dalam siksa yang menghinakan." (QS. Saba’: 14).
Dalam ayat tersebut dijelaskan bahwa jin tidak mengetahui hal yang ghaib (datangnya ajal Nabi Sulaiman). Maka dari itu mereka tetap bekerja sebagaimana yang diperintahkan Nabi Sulaiman. Mereka terus membangun gedung-gedung yang tinggi, patung-patung dan piring-piring yang  (besarnya) seperti kolam dan periuk-periuk yang tetap (berada diatas tungku), sebagaimana yang dijelaskan pada ayat sebelumnya. Padahal Nabi Sulaiman telah mati dalam posisi berdiri dan bersandar pada tongkatnya. Kondisi itu berlangsung hampir satu tahun lamanya.
Para jin itu baru mengetahui kematian Sulaiman, setelah rayap memakan tongkatnya kemudian Nabi Sulaiman  jatuh tersungkur. lnilah bukti konkrit atas ketidaktahuan jin terhadap hal yang benar-benar ghaib. Tidak seperti yang dipropagandakan oleh jin kepada manusia selama ini, sehingga banyak manusia yang mengira bahkan berkeyakinan bahwa jin adalah makhluk ghaib yang mengetahui segala hal yang ghaib. ltulah presepsi yang salah kaprah. Lihat Tafsir lbnu Katsir, juz: 3, hal: 535.
Kesimpulanya
Jadi, kalau ada dukun yang berkolaborasi dengan jin. Lalu meramal kejadian ghaib yang akan terjadi, dan kebetulan ramalan itu cocok. Berarti jin itu telah mencuri keghaiban tersebut dari langit, kemudian dibisikkan ke telinga si dukun. Aisyah pernah bercerita, “Ada orang-orang datang ke Rasulullah dan bertanya tentang dukun-dukun. Rasulullah menjawab, "Mereka itu tidak ada apa-apanya”. Lalu ada yang berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya mereka kadangkadang memberitahu kepada kami berita yang benar-benar terjadi.” Rasulullah menjawab, “Kalimat itu bersumber dari kebenaran yang telah dicuri jin, kemudian disampaikan ke telinga walinya (para dukun). Tapi jin telah mencampur kebenaran dengan seratus kebohongan.” (HR. Bukhari).
Kalau jin juga tidak mengetahui hal-hal yang ghaib seperti kita, kenapa kita minta bantuannya untuk menyingkap misteri kehidupan ini? Dan kalau kita mengetahui para dukun itu bekerjasama dengan jin, kenapa kita terus mendatanginya? Kalau kita sadar bahwa kita ini sebagai umat Rasulullah, kenapa kita masih mengikuti dukun yang notabene mereka adalah utusan-utusan syetan di bumi ini.
Allah telah menegaskan dalam firman-Nya, “(Dialah Allah) yang Maha Mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorang pun tentang yang ghaib itu, kecuali kepada rasul yang diridhai-Nya.” (QS. Al-Jin: 26-27).
Al-Qur'an dalam ayat lain juga mengatakan, Dan Allah sekali-kali tidak akan memperlihatkan kepada kamu hal-hal yang ghaib, akan tetapi Allah memilih siapa saja yang dikehendaki-Nya diantara rasul-rasul-Nya. Karena itu berimanlah kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, dan jika kamu beriman dan bertaqwa maka bagimu pahala yang besar (QS. AIi lmran: 179).
 
Semoga yang sedikit ini bermanfaat bagi kita semua, amin.
Wallahu a’lam

nasehat dari Al-Imam 'Ali Zainal 'Abidin

 

Dibawah ini adalah beberapa ungkapan atau mungkin secercah petunjuk dalam hidup yang mungkin bisa kita petik satu demi satu i'tibar dibalik itu semua. adapun ungkapan ini merupaka sebuah nasehat dari Al-Imam 'Ali Zainal 'Abidin QS.

• “Wahai anakku! Waspadalah terhadap lima macam manusia, dan janganlah kau bersahabat dan 
 seperjalanan dengan mereka:

“Jauhilah bersahabat dengan pendusta, karena dia seperti fatamorgana; mendekatkan sesuatu yang jauh darimu dan menjauhkan sesuatu yang dekat denganmu.

“Jauhilah bersahabat dengan orang fasik, karena dia akan menjualmu dengan sesuap nasi atau selainnya.

“Jauhilah bersahabat dengan orang kikir, karena dia akan membiarkanmu ketika engkau membutuhkannya.

“Jauhilah bersahabat dengan orang dungu (tolol), karena dia akan mencelakakanmu padahal semestinya ia ingin menolongmu.

“Dan jauhilah bersahabat dengan orang yang suka memutuskan silaturahmi, karena aku mendapatinya terlaknat di dalam kitab Allah.”

Barangsiapa yang mulia jiwanya maka dunia akan tampak rendah dalam pandangannya. 

Betapa indah hidup dan sungguh sangatlah berarti jika kita bisa berbagi bersama dalam memetiki'tibar pada sebuah kalam maupun nasehat dari para kekasih allah. semoga allah ridho kepada kita semua lantaran keridhoan allah kepada mereka pula. Aamiin

Rabu, 12 Maret 2014

telik sandi


Pola dan Kinerja Intelijen Kiai
Oleh : Rijal Pakne Avisa
Menjelang peristiwa pertempuran 10 Nopember 1945, Kiai Abbas Buntet, Cirebon, membentuk jaringan telik sandi santri yang membentang dari Cirebon ke arah timur hingga Surabaya. Dalam bentangan jaringan teliksandi inilah, koordinasi antar lini barisan Mujahidin (mustasyar-nya Hizbullah dan Sabilillah) bisa terjalin (jujur, saya lupa referensinya).
Bahkan, Mbah Hasyim Asy'ari dalam fase genting menjelang meletusnya pertempuran ini belum mengeluarkan keputusan, kecuali setelah berkoordinasi lebih dulu dengan Kiai Abbas.
Kiai Wahid Hasyim juga tak kalah dalam kinerja spionase ini. Kiai Wahid memiliki santri andalan bernama Yusuf yang bertindak sebagai penghubung dan kurir rahasia. Kinerja Yusuf diakui oleh KH. Saifuddin Zuhri. Dalam masa perang kemerdekaan itu, Kiai Saifuddin bergerilya dan sempat singgah di rumah kiai sepuh di pedalaman. Herannya, Yusuf si kurir Kiai Wahid Hasyim itu berhasil mengendus jejaknya. Yusuf inilah yang menjadi kunci penghubung jaringan kader yang dibina Kiai Wahid Hasyim bin Hasyim Asyari. Yusuf pantas digelari Laison Officer [hahaha].
Kiai Wahid Hasyim, ayah Gus Dur, pada era perang kemerdekaan belum menyentuh usia 35 tahun, tapi ia menunjukkan potensi di atas rata-rata. Husein alias Tan Malaka, sosok yang paling diburu dinas intelijen Hindia Belanda (SAD-PID) dan intelijen militer Jepang, beberapa kali malah berkunjung ke kediaman Kiai Wahid.
Mengenai ilmu intelijen ini, Kiai Wahid menuturkan kepada Kiai Saifuddin Zuhri: "Meski saya bukan pemimpin besar, tetapi saya mempunyai mata 'seribu kurang seratus' dan telinga 'seribu kurang seratus',". Maksudnya, menurut Kiai Saifuddin, pemimpin harus mempunyai seribu mata dan seribu telinga. Artinya, pemimpin mesti banyak melihat dan mendengar melalui berbagai saluran yang tidak dimiliki oleh sembarang orang.
Lalu, bukankah dalam dunia spionase ada istilah 'Safe House'? Tentu saja Kiai Wahid dan jaringannya punya 'Safe House', di antaranya: rumah Kiai Abdurrazaq di Mampang, rumah Kiai Muhammad Naim di Cipete, rumah Kiai Hasbiallah di Mender, rumah Kiai Baqir di Rawabangke, dan beberapa nama lain.
Kenapa Safe House-nya di Jakarta? Bukankah ini sama halnya bunuh diri karena Jakarta dikuasai Belanda? Tidak, Kiai Wahid dengan cerdik menggunakan Teori Komunis Stalinis, "Jika kita pencuri yang sedang diburu polisi, tempat yang paling aman untuk bersembunyi adalah kantor polisi!"
Kiai Saifuddin Zuhri, yang dikader oleh Kiai Wahid, hanya bisa terkagum-kagum melihat strategi mentornya.
Wallahu A'lam.

Senin, 10 Maret 2014

sholawat fulus

بسم الله الرحمن الرحيم
اللهم صل علي سيدنا محمد المبعوث صلاة تجلب بها الاموال
والفلوس والمطعوم والملبوس وعلي اله وصحبه بعدد النفس والنفوس
وسلم تسليما
اللهم صل علي سيدنا محمد قدر لااله الا الله محمد رسول الله
واغننا واحفظنا ووفقنا لما ترضى واصرف عنا السوء
وعلى اله وصحبه أءمّة الهدى و مصابح الظلام
وادخلنا الجنة دار السلام يا حي يا قيوم يا الله 

Caranya :
1.Sediakan uang yg masih berlaku (nominal terserah anda)
2.Oleskan uang tersebut dengan minyak misik
3.Bacakan sholawat bil fulus di atas 99 x pada uang tadi dan tiupkan 3 x
4.Ritual di lakukan pada jam 12 malam,di mulai dengan mengerjakan shalat sunat hajat terlebih dahulu
5.Akan lebih ampuh jika berpuasa 1 hari sebelum membuat uang asma ini
Kegunaan uang asma :
Jalbur rizqi,jika ada usaha insya allah uang/rizki akan terus mengalir bagi yg mempunyai dan membawa uang asma ini.bi idznillah….

Minyak Asmak AL KAROMAH



Minyak Misik ini berukuran 5 mili, minyak yang berwarna coklat kehitaman dan mengkilat bila terkena cahaya disebut minyak musk oil, minyak ini berasal dari butiran-butiran keringat Kijang gunung yang mengkristal kemudian menjadi butiran yang menempel pada pundak Kijang gunung yang jatuh berceceran seperti batu kecil yang lembut.
Keringat itu dikeluarkan tatkala kijang tersebut dalam kondisi birahi yang membuat kijang betina menjadi birahi sehingga terjadilah hubungan badan antara Kijang jantan dan Kijang betina.
minyak Misik ini sudah diisi dan di wafaq secara Khusus berdasarkan ilmu hikmah dari para sesepuh awliyaillah serta khotaman alqur’an.
Bila dibawa  insya allah membawa barokah keberuntungan, bila untuk berdagang maka dagangannya akan laris serta menambah pelanggan, melancarkan segala macam usaha , dapat meredam amarah orang,menambah  keharmonisan dalam hubungan rumah tangga,merukunkan orang tua dan anak/suami istri, disukai dalam kehidupan sehari-hari,dan insya allah menetralisir gangguan-gangguan halus.
bagus untuk mandi calon pengantin/anak kecil agar tidak kena pulasit dan gangguan gaib lainnya.
Mahar: Rp250.000

Rabu, 29 Mei 2013

kelebihan sahabat (copas dari kompas)

Sebelumnya kita sudah mengetahui tentang tragedi yang terjadi pada umat islam selepas terbunuhnya Khalifah Utsman bin Affan.  Dan kita juga sudah tahu tentang perselisihan yang terjadi antara dua orang sahabat Nabi, Ali bin Abi Thalib dan Muawiyah bin Abi Sufyan ketika itu. Dan kita juga sudah tahu bagaimana seharusnya sikap kita sebagai umat islam menyikapi perselisihan antara mereka (mohon dan mohon lihat dulu tulisan saya di sini biar lebih jelas dan paham).
Setelah kita mengetahui semua itu, ketahuilah, kedua-duanya merupakan sahabat Nabi yang mulia. Kedua-duanya memiliki keutamaan dan jasa yang besar atas umat ini.
Apa sajakah keutamaan mereka?
Kita mulai dari Ali bin Abi Thalib.
1. Ia adalah sepupu sekaligus menantu Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam dari puteri beliau, Fathimah az-Zahra’ radhiyallahu anha.
2. Ia termasuk sahabat-sahabat Nabi yang mengikuti Bai’at Ridhwan.
Sedangkan orang yang mengikuti  Bai’at Ridhwan mendapatkan kabar gembira dari Rasulullah shollallahu’alaihi wasallam yang bersabda:
لنْ يدخلَ النَّارَ أحدٌ بايعَ تحت الشَّجرةِ
“Tidak akan masuk neraka orang-orang yang ikut dalam bai’at di bawah sebuah pohon (yakni Bai‘at Ridhwan).” (HR. Tirmidzi)
3. Ia juga termasuk sahabat-sahabat Nabi yang mengikuti perang Badar.
Sedangkan orang yang mengikuti perang Badar mendapatkan kabar gembira dari Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam dalam sabdanya:
‏وما يدريك لعل الله قد اطلع على أهل ‏ ‏بدر ‏ ‏فقال اعملوا ما شئتم فقد غفرت لكم
“Tahukah kamu, sesungguhnya Allah telah mengetahui apa yang akan dilakukan oleh para peserta perang Badar. Allah mengatakan, ‘Lakukanlah sesukamu sesungguhnya Aku telah mengampuni kamu. ” (HR. Bukhari dan Muslim)
4. Ia juga sahabat Nabi yang mendapat pujian Rasulullah shollallahu ‘alahi wasallam tatkala beliau berkhutbah di hari kedelapan belas Dzulhijjah pada haji wada’ di tempat yang bernama Ghadir Khum:
مَنْ كُنْتُ مَوْلاَهُ فَعَلِىٌّ مَوْلاَهُ
“Barangsiapa yang menjadikan aku sebagai walinya maka sesungguhnya ia telah menjadikan Ali sebagai walinya.“ (HR. Ahmad)
Masih banyak lagi keutamaan beliau. Dan rasanya teman-teman sebagian sudah tahu. Karena sahabat Nabi ini sudah begitu popular di tengah-tengah kita. Jadi tidak perlu saya memperpanjang lagi (yang mau lihat keutamaan Ali lainnya silahkan lihat di sini).
Berbeda dengan sahabat yang kedua ini yaitu Muawiyah. Mungkin banyak di antara kita yang belum mengetahui keutamaannya.
Muawiyah bin Abi Sufyan…
1. Ia merupakan sahabat dan juga ipar Nabi. Sebab, saudarinya yaitu Ummu Habibah merupakan istri Rasulullah. Dan istri Nabi adalah ibu kaum mukminin, berarti Muawiyah adalah paman kaum mukminin.
2. Selain itu ia merupakan orang yang dipercaya Rasulullah untuk menulis wahyu tatkala turun kepada beliau.
3. Ia merupakan orang yang telah didoakan oleh Nabi:
اللَّهُمَّ اجْعَلْهُ هَادِيًا مَهْدِيًّا وَاهْدِ بِهِ
“Ya Allah, jadikanlah ia (Mu’awiyah) sebagai pembimbing dan terbimbing, serta berilah hidayah (kepada manusia) melalui perantaraannya.” (HR. Tirmidzi).
Dan juga orang yang telah didoakan  oleh Nabi:
اللَّهُمَّ عَلِّمْ مُعَاوِيَةَ الْكِتَابَ وَالْحِسَابَ وَقِهِ الْعَذَابَ
“Ya Allah, ajarkanlah Mu’awiyah al-kitab dan perhitungan, serta peliharalah dia dari siksaan.” (HR. Ahmad)
Bukankah doa Nabi makbul?
Makanya sahabat Nabi, Ibnu Abbas pun mengakui kedalaman ilmu Muawiyah.
Disebutkan dalam Shahih Bukhari dari Ikrimah, ia berkata kepada Ibnu Abbas:
إن معاوية أوتر بركعة
“Sesungguhnya Muawiyah melakukan witir dengan satu rakaat. ” Ibnu Abbas pun menjawab:
إنه فقيه
“Dia orang yang faqih. ” dalam riwayat lain:
إنه صحب رسول اللَّه صلى اللَّه عليه وآله وسلم
“Dia pernah bersahabat dengan Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam. ”
Bahkan, Ali bin Abi Thalib pun mengakui keilmuan Muawiyah. Sepulang dari perang Shifin Ali berkata:
أيُّها الناس، لا تكوهوا إمارة معاوية إنه لو فقدتموه لقد رأيتم الرؤوس تَنْزُو مِنْ كَوَاهِلِهَا كَالْحَنْظَلِ
“Wahai sekalian manusia, janganlah kalian membenci kepemimpinan Mu’awiyah karena sesungguhnya kalau kalian kehilangan Mu’awiyah, niscaya kalian akan melihat kepala-kepala manusia terlepas dari badan-badan seperti buah hanzhal. ” (Al-Bidayah wa Nihayah juz 6 hal 256).
4. Muawiyah juga mendapatkan kabar gembira dari Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam yang bersabda:
أَوَّلُ جَيْشٍ مِنْ أُمَّتِي يَغْزُونَ البَحْرَ قَدْ أَوْجَبُوا
“Pasukan pertama dari umatku yang berperang di laut, telah dipastikan bagi mereka (tempat di Surga).” (HR. Bukhari)
Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata:
قال المهلّب : في هذا الحديث منقبة لمعاوية لأنه أول من غزا البحر
Al-Muhallib berkata, “Dalam hadits ini terdapat keutamaan Mu’awiyah karena beliaulah orang pertama yang berperang dengan armada laut. “ (Fathul Bari juz 6 hal 102)
Umar bin Abdil’Aziz atau Mu’awiyah bin Abi Sufyan?
Kita semua tentu sudah tahu bagaimana keutamaan Umar bin Abdil ‘Aziz. Keadilan, ketegasan dan kesalehan beliau tidak tertandingi oleh siapapun pemimpin setelahnya. Namun, jika dibandingkan dengan Muawiyah, siapa yang lebih baik? Umar bin Abdil’Aziz atau Muawiyah?
Seorang Ulama Tabi’in yang masyhur yaitu Abdullah bin Mubarak ditanya:
أيهما أفضل معاوية بن أبي سفيان ، أم عمر بن عبد العزيز ؟
“Siapa yang lebih utama, Mu’awiyah bin Abi Sufyan atau Umar bin Abdil Aziz?”
Ibnul Mubarak menjawab:
والله إن الغبار الذي دخل في أنف معاوية مع رسول الله صلى الله عليه وسلم أفضل من عمر بألف مرة ، صلَّى معاوية خلف رسول الله صلى الله عليه وسلم ، فقال : سمع الله لمن حمده ، فقال معاوية : ربنا ولك الحمد ، فما بعد هذا ؟ .
“Demi Allah, sungguh debu yang masuk ke hidung Mu’awiyah bersama Rasulullah shollallahu ‘alahi wasallam lebih baik beribu-ribu kali daripada Umar (bin Abdil’Aziz). Mu’awiyah telah shalat di belakang Rasulullah shollallahu ‘alahi wasallam. Nabi mengucapkan:Sami’allahu liman hamidah (Allah mendengarkan orang yang memuji-Nya) lalu Muawiyah menjawab, “Robbana walakal hamd.” (Wahai Rabb kami bagi-Mu lah pujian)” Apa ada (keutamaan lebih besar) setelah ini? ” (Wafayatul A’yan juz 3 hal 33)
Al Jarrah al Maushili berkata: Saya pernah mendengar seorang lelaki bertanya kepada Al-Mu’aafa bin Imran: “Wahai, Abu Mas’ud, bagaimanakah kedudukan Umar bin Abdul Aziz dibandingkan dengan Mu’awiyah bin Abi Sufyan?” Mendengar perkataan itu, ia marah besar dan berkata:
لا يقاس بأصحاب محمد صلى الله عليه وسلم أحد ، معاوية رضي الله عنه كاتبه وصاحبه وصهره وأمينه على وحيه عز وجل، وَقَدْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «دَعُوا لِي أَصْحَابِي وَأَصْهَارِي فَمَنْ سَبَّهُمْ فَعَلَيْهِ لَعْنَةُ اللَّهِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ
“Sahabat Nabi Muhamad shollallahu ‘alaihi wasallam tidak dapat dibandingkan dengan siapapun. Mu’awiyah-semoga Allah meridhoinya-adalah penulis Nabi, sahabat beliau, ipar beliau, dan orang kepercayaan beliau dalam menulis wahyu Allah Azza wa Jalla, sedangkan Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda, “Jangan ganggu para sahabat dan iparku, karena siapa yang memaki mereka, maka atasnya laknat Allah, malaikat dan seluruh manusia. ” (Asy-Syariah juz 5 hal 2466 )
Jadi, kedudukan seorang yang beriman dan bertemu dengan Nabi bukanlah remeh. Ia mendapatkan posisi yang mulia, walaupun bertemunya hanya sesaat.
Makanya Imam Ahmad berkata:
فأدناهم صُحْبَة أفضل من الْقرن الَّذِي لم يروه وَلَو لقوا الله بِجَمِيعِ الْأَعْمَال كَانَ هَؤُلَاءِ الَّذين صحبوا النَّبِي صلى الله عَلَيْهِ وَسلم ورأوه وسمعوا مِنْهُ أفضل لصحبتهم من التَّابِعين وَلَو عمِلُوا كل أَعمال الْخَيْر
“Orang yang paling sebentar menyertai Nabi di antara para sahabat beliau itu lebih baik dibandingkan orang-orang yang belum pernah melihat beliau walaupun mereka bertemu dengan Allah di hari kiamat membawa seluruh amalan. Mereka orang yang bersahabat dengan Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam, melihat beliau dan mendengar perkataan beliau lebih baik daripada Tabi’in dikarenakan persahabatan mereka dengan beliau, walaupun Tabi’in itu melakukan seluruh amalan baik. ” (Ushul As-Sunnah)
Semoga dengan tulisan ini kita bisa menempatkan para sahabat Rasulullah semestinya sesuai posisi mereka.

Rabu, 22 Mei 2013

Tashawwuf

 copas dari fb nya mas
Hubbaibulloh Titik Koma
 
1 . Apakah tashawwuf itu ? .... dan apa hubungannya dengan thariqah? .... Apakah termasuk bid'ah atau tidak dalam pandangan Islam? ...
Jawab : Pada prinsipnya, tashawwuf adalah istilah untuk sebuah disiplin ilmu dan amaliyah yang muncul sekitar abad kedua - ketiga hijriyah, tergugah oleh rasa prihatin para ulama 'shalihin pada saat itu, dimana ummat Islam mengalami kemunduran yang disebabkan berbagai peristiwa baik sosial, politik, ekonomi maupun budaya. Sehingga nilai nilai Islam cenderung diabaikan karena begitu kuatnya obsesi duniawi. Bahkan para ulama 'shalihin dijadikan musuh baik oleh masyarakat maupun kantor. Diantara mereka banyak yang dibunuh karena dianggap opposan.
Untuk itulah banyak ulama yang shalih menyinggkir kepinggiran kota bahkan kegunung gunung dan membuat zawiyah (pusat kegiatan pendidikan dan riyadhah ruhani) dengan disiplin yang ketat mengacu pada kehidupan Rasulullah SAW dan para sahabatnya (ahlus shuffah). Dimana mereka berusaha menata dan memelihara hati agar terhindar dari sifat sifat tercela dan menghias dengan sifat sifat terpuji seperti ihlas, qonaah, sabar dll. Intinya adalah mengatur hati agar tidak dikuasai dunia tapi harus menguasai dunia.
Dari para ulama 'yang sekaligus Auliya' (pada masing masing daerah dan zaman) itulah muncul metode metode khusus untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. dimana didalamnya sarat dengan praktek praktek baik berupa bacaan bacaan dan disiplin latihan atau riyadhah ruhani dengan tata cara dan syarat syarat tertentu yang mereka tetapkan. Praktek praktek ini bersumber dari Rasulullah SAW dengan sanad jelas atau silsilah yang sambung. Praktek seperti inilah yang selanjutnya disebut thariqah. Adapun thariqah yang mu'tabar / memiliki sanad yang sambung sampai pada Baginda Nabi Muhammad SAW jumlahnya sekitar 360 thariqah.
Jadi T ashawwuf itu adalah teori dan praktek Al Islam dengan acuan utama mencontoh cara hidup dan kehidupan Rasulullah SAW dan para sahabatnya. Sedangkan thariqah adalah amalan resminya. Pada zaman Nabi Muhammad SAW istilah tashawwuf mungkin belum ada, tapi prakteknya sudah ada. Ya sama dengan nama teori dan praktek mengajarkan baca tulis Al Qur'an, ada Qiroati, Iqro ', Al Barqi dll. Pada zaman Nabi tidak ada tapi selaras dengan perkembangan zaman dan kebutuhan juga bertambah maka lahirlah istilah dan nama nama tersebut dalam hasanah dunia Islam. Mengapa tidak dicap bid'ah? ....
Kalau setiap hal baru seperti tashawwuf dicap bid'ah karena tidak ada di zaman Nabi, maka seluruh organisasi yang ada saat ini bid'ah semua. Seperti organisasi Islam NU, Muhammadiyah, PERSIS, Hamas, Fatah, FPI, Lasykar Jihad, Jamaah Islamiyah dan lain sebagainya itu bid'ah juga. Jika setiap bid'ah dhalalah dan masuk neraka, maka semuanya dhalalah dan masuk neraka.
Demikian juga praktek menentukan awal dan ahir bulan pada zaman Nabi tidak pakai hisab dan tidak pakai computer. Berarti yang pakai hisab dan computer itu bid'ah - dhalalah dan masuk neraka semua. Al Qur'an di zaman Nabi tidak dibukukan, dizaman sahabat dibukukan diatas lembaran dari bahan kulit dan ditulis tangan kemudian disimpan tidak di letakkan dimasjid untuk dibaca umum. Sekarang dicetak offset dalam jumlah masal kemudian disebar di masjid masjid dan mushalla. berarti tidak sama dengan zaman Nabi dan sahabat. Apakah tidak bid'ah juga? ....
Kesimpulannya, jika tashawwuf dan thariqah kita lihat hanya dari sebatas nama yang mana hal itu tidak ada dizaman nabi. Kemudian setiap yang tidak ada di zaman Nabi itu bid'ah dhalalah, maka tashawwuf itu termasuk bid'ah dhalalah, termasuk bid'ah dhalalah juga organisasi NU, Muhammadiyah, PERSIS dan lain lain karena tidak ada dizaman nabi.
Jika tashawwuf dan amalannya (thariqah) kita lihat dari segi isinya, yang mengacu pada kehidupan Rasulullah dan para sahabatnya, sedangkan thariqah adalah praktek yang jelas sanadnya sambung pada Rasulullah SAW. maka tashawwuf dan thariqah adalah bagian terpenting dalam Islam yang harus kita perjuangkan dan pelihara eksistensinya.
2 . Dari mana asal usul wirid thariqah dan apa rahasianya sehingga memiliki prioritas beda dengan wirid selain thariqah? ...
Sebuah bacaan rutin / wirid baru disebut sebagai wirid thariqah jika bacaan tersebut berasal dari Rasulullah SAW dengan sanad yang jelas dan Shahiih. Wirid ma'tsur yang ada dasar pengambilannya baik dari Al Qur'an maupun hadits yang disusun dan dibaca oleh seseorang tanpa sanad yang sambung sampai baginda Nabi SAW seperti bacaan bacaan setelah shalat (Subhanallah 33X, Alhamdulillah 33X, Allaahu akbar 33X) dan berbagai bacaan lainnya yang dibaca sekedar hasil niru saja atau hasil dari membaca kitab kitab / buku buku lalu disusun sendiri hukumnya bukan thariqah.
Termasuk juga dzikir yang dibaca di berbagai majlish dzikir yang disusun oleh seorang tokoh seperti Ustadz Arifin Ilham dengan Adz Dzikra, maupun oleh tokoh besar seperti Syaikhul Islam Al Imam Al Ghazali misalnya, juga bukan thariqah. Akan tetapi wirid tersebut tetap memiliki prioritas sesuai janji Allah dan Rasul-Nyaj juga sesuai dengan derajat perintis dan pembacanya. Sedangkan wirid thariqah disamping mendapatkan keutamaan dan pahala sebagaimana tersebut diatas, juga mendapatkan pahala dan keutamaan lainnya, yaitu pahala dan keutamaan serta keistimewaan dari sanad yang sambung dengan Rasulullah SAW.
Sanad thariqah ada dua macam. Yaitu sanad hissy dan sanad barzakhy. Sanad hissy artinya sanad ijazah / izin yang diberikan oleh Rasulullah SAW ketika beliau masih hidup. Seperti sanad Thariqah Qadiriyah asalnya dari Rasulullah SAW kepada Sayyidina Ali bin Abi Thalib Karramallaahu wajhahu, sedangkan Sayyidi Syeikh Abdul Qadir Al Jailani hanyalah Extenders, dimana dia mendapatkan gelar dari Wali yang menjadi guru beliau kemudian beliau amalkan dan kembangkan sehingga selanjutnya praktek tersebut dinisbatkan pada beliau.
Demikian juga Thariqah Naqsyabandiyah, aslinya yang mendapatkan langsung adalah Sahabat Abu Bakar Al Shiddiq ra. yang selanjutkan diijazahkan kepada S. Salman Al Farisy lalu pada Imam Ja'far Shadiq yang ahirnya sampai pada Sayyidi Syekh Bahauddin Al Naqsyabandy. Dia menghidupkan lagi dan memasyrakatkannya dengan gencar. Sehingga selanjutnya disebut thariqah Al Naqsyabandiyah.
Adapun sanad barzakhy adalah sanad ijazah wirid yang diperoleh dari Rasulullah SAW melalui pertemuan langsung dalam sadar / bukan mimpi setelah beliau wafat. Sanad barzakhy diakui dan diyakini kebenaran dan keabsahannya oleh kalangan muhaqqiqiin dan 'arifiin.
Diantara thariqah yang sanadnya didapat secara barzakhi adalah thariqah At Tijany. Hal ini yang menjadi salah satu keistimewaan thariqah At Tijany, yaitu sanadnya langsung dari Rasulullah SAW kepada Sayyidi Syeikh Ahmad At Tijani ra, tanpa perantara (bukan dari sesama Wali) sehingga sanad yang sampai pada kitapun sangat dekat dengan Baginda Rasulullah SAW.
3 . Selain dasar Al Qur'an dan Hadits, apa yang menjadi bukti kebenaran dan keistimewaan wirid thariqah? ..
Bukti yang paling jelas diantaranya adalah, adanya perubahan perilaku praktisi thariqah yang secara bertahap namun pasti. Dari ahlak yang jelek, kasar dan tidak peduli dengan agama, berubah menjadi baik, lembut, kasih sayang pada sesama dan perhatian penuh pada seluruh aspek agama.
Bagi mereka yang benar benar istiqamah, pada saat yang dikehendaki oleh Allah SWT mereka akan mendapat anugrah predikat sebagai wali / kekasih Allah SWT dan sebagai bukti kewaliannya, Allah SWT memberi mereka kekaramatan baik hissy maupun ma'nawy. Dari mereka inilah memancar sinar keimanan yang begitu kuat dan dahsyat sehingga mampu menembus berbagai demensi pada seluruh mahluk disekitarnya.
4 . Bagaimana hukumnya melakukan wirid dengan batasan batasan tertentu, seperti jumlah dan waktu tertentu. Apakah ada di zaman Nabi atau tidak? ....
Hadits Nabi yang menganjurkan praktek wirid / dzikir dengan jumlah tertentu sangat banyak kita temui dalam berbagai literature dan kitab hadits, diantaranya:
وعن ابي هريرة رضي الله عنه قا ل : قا ل رسول الله صلى الله عليه وسلم : " من سبح الله فى د بر كل صلاة ثلاثا وثلاثين, وحمد الله ثلاثا وثلاثين, وكبر الله ثلاثا وثلاثين, وقا ل تمام المائة : لااله الا الله وحد ه لا شريك له له الملك وله ا لحمد, وهو على كل شيئ قد ير, غفرت خطا يا ه وان كا نت مثل زبد البحر ". ( رواه مسلم )
Diriwayatkan oleh Imam Abi Hurairah ra: Bersabda Rasulullah SAW "Barangsiapa bertasbih 33X pada setiap selesai shalat, dan bertahmid 33X, bertakbir 33X, dan membaca Laailaaha illallahu wahdahu laa syariika lahu, lahul Mulku walahul hamdu, wahuwa 'alaa kulli syai'in qodiir digenapkan 100X , maka Allah mengampuni dosanya meskipun sebanyak busa di lautan. (HR. Muslim)
وعن ابي هريرة رضي الله عنه قا ل : سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول : " والله اني لاستغفر الله واتوب اليه فى اليوم اكثر من سبعين مرة " ( رواه البخا ري ) وفى رواية مسلم " ما ئة مرة ".
Diriwayatkan oleh Imam Abi Hurairah ra: "Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda": "Demi Allah saya (Rasulullah SAW) selalu mohon ampun dan bertaubat kepada Allah dalam sehari lebih dari 70 kali" (HR. Bukhari) dalam hadits riwayat Imam Muslim 100X.
قا ل رسول الله صلى الله عليه وسلم : " ا حب الاعما ل الى الله أدومها وان قل " ز ( روه البخا ري و مسلم )
Rasulullah SAW bersabda: "Perbuatan (amal) yang paling disenangi oleh Allah adalah rutin / dawam atau istiqamahnya, meskipun sedikit". (HR. Bukhari dan Muslim) .
Masalah ditentukan waktunya, juga banyak riwayat hadits yang menjelaskan waktu waktu maupun tempat istijabah untuk berdoa dan beribadah. Waktu yang sangat baik untuk munajat kepada Allah SWT pada 1/3 malam terahir, pagi dan sore, bulan Ramadhan, hari jum'at sebagaimana hadits Nabi SAW:
وعن أوس بن أوس رضي الله عنه قا ل : قا ل رسول الله صلى الله عليه وسلم : " ان من أفضل ايا مكم يوم الجمعة, فأكثروا علي من الصلاة فيه, فا ن صلاتكم معروضة علي " فقالوا : يا رسول الله, وكيف تعرض صلاتنا عليك وقد ارمت? .... قا ل : يقول : بليت, قا ل : " ان الله حرم على الارض أجسا د الانبياء "( رواه ابو د اود )
Diriwayatkan oleh Aus bin Aus RA: Rasulullah SAW bersabda: "Sesungguhnya hari yang paling utama bagimu adalah hari Jum'at. Maka perbanyaklah membaca shalawat untukku didalamnya. Sesungguhnya shalawat kalian disampaikan kepadaku ". Para sahabat bertanya: Ya Rasulallah, Bagaimana shalawat kami disampaikan kepada Tuan, padahal Tuan sudah berkalang tanah? ... Rasulullah SAW menjawab: "Sesungguhnya Allah SWT mengharamkan bagi tanah untuk makan jasad para Nabi". (HR. Abu Daud).
Sedangkan tempat istijabah untuk berdoa, selain di Haramain Al Syarifain (Mekkah dan Madinah) juga di masjid masjid, termasuk juga didalam rumah dianjurkan untuk dijadikan tempat ibadah seperti shalat dan baca Al Qur'an agar bercahaya dan hidup tidak seperti kuburan.
5 . Bagaimana hukumnya berdzikir dan menghitung jumlah bacaannya dengan pakai tasbih (alat hitung), apakah termasuk bid'ah atau tidak? ...
Sebagaimana jawaban penulis terhadap pertanyaan terdahulu. Kalau berpendapat bahwa segala sesuatu yang tidak ada pada zaman Nabi SAW itu bid'ah, dhalalah dan haram hukumnya, maka pakai tasbih / alat hitung lainnya juga bid'ah, dhalalah dan haram hukumnya. Bid'ah, dhalalah dan haram juga khutbah jum'at dan shalat jum'at pakai sound system. Demikian juga termasuk bid'ah menentukan awal dan ahir bulan Ramadhan pakai telescope dan menghitung (hisab) pakai computer dan alat lainnya seperti dilakukan oleh PP. Muhammadiyah setiap tahunnya.
Tapi kalau mengacu pada hadits Nabi yang menentukan jumlah bacaan 33X, 70X, 100X dan lain sebagainya, kemudian memakai alat hitung untuk memfasilitasi dan memelihara kehusyu'an, maka hukumnya dapat bahkan dianjurkan.
Ketika I'tikaf di masjid Al Haram Mekkah, penulis pernah ditegor oleh seorang pemuda terpelajar Saudi yang memberi peringatan pada penulis agar sebaiknya menghitung dzikir dengan ruas ruas jari tangan saja karena kata dia, dengan merujuk pada sebuah riwayat hadits bahwa ruas ruas tulang dan sel sel daging selalu bertasbih kepada Allah SWT.
Penulis jawab tegoran tersebut dengan merujuk pada firman Allah SWT:
سبح لله ما فى السموت والارض وهو العزيز الحكيم, ( الحد يد : 1)
" Segala sesuatu yang ada di langit dan di bumi bertasbih kepada Allah, dan Dialah Dzat yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksanan ". (QS. Al Hadid).
Kalau alasannya menghitung dengan ruas ruas jari adalah karena tasbihnya, sedangkan benda benda diseantero jagad raya juga sama sama bertasbih kepada Allah SWT. maka pakai tasbih (alat hitung) lebih utama. Sebab kalau pakai tangan hitungannya hanyalah tasbih kita saja, tapi kalau pakai alat / benda, benda benda yang kita pakai berdzikir akan sangat berterima kasih kepada kita dan so pasti mendoakan kita juga dengan dzikirnya kepada allah SWT agar kita tambah rajin wirid dan memakai benda tersebut sebagai alat dan temannya.
6 . Untuk memasuki atau mengikuti dan mengamalkan ajaran thariqah, seseorang harus berbai'at dulu. Bagaimana hukumnya dan apa dasar hukumnya? ...
Bai'at artinya perjanjian lahir batin, sehidup semati serta siap berbuat dan menanggung resiko apa saja sebagai akibat dari perjanjian tersebut. Orang yang mau masuk suatu thariqah apapun namanya harus bai'at dulu. Yaitu ikrar janji setia kepada Allah SWT melalui Guru / Syeikh (Mursyid atau Muqaddam thariqah) bahwa dia akan berusaha semaksimal mungkin untuk melaksanakan seluruh kewajiban Syariat Islam dan menjauhi semua larangannya serta memenuhi seluruh persyaratan yang ditentukan oleh thariqah yang dianutnya.
Praktek dan istilah bai'at sudah ada sejak zaman Nabi SAW hidup. Dalam sejarah ketika Fathul Makkah, dikatakan bahwa penduduk Mekkah ramai ramai bai'at masuk Islam kepada Baginda Nabi Muhammad SAW, ketika Sahabat Utsman bin Affan ra. ditangkap dan dijadikan sandra, Rasulullah SAW menyerukan jihad untuk membela Utsman. Lalu para sahabat banyak orang bai'at pada Nabi bawah pohon di Hudaibiyah, demikian juga dalam berbagai kesempatan lain. Sebagaimana firman Allah SWT dalam Al Qur'an:
ان الذ ين يبا يعونك انما يبا يعون الله, يد الله فوق ايد يهم, فمن نكث فا نما ينكث على نفسه, ومن اوفى بما عهد عليه الله فسيؤتيه اجرا عظيما . ( الفتح : 10)
" Bahwasanya orang orang yang berbai'at (berjanji setia) kepadamu, sesungguhnya mereka berbai'at kepada Allah. Tangan Allah diatas tangan mereka, maka barangsiapa yang melanggar janjinya, niscaya akibat melanggar janji tersebut akan menimpa dirinya sendiri, dan barangsiapa yang menepati janjinya kepada Allah, maka Allah akan memberinya pahala yang besar ". (QS. Al Fath: 10).
لقد رضي الله عن المؤمنين اذ يبا يعونك تحت الشجرة فعلم ما فى قلوبهم فانزل السكينة عليهم واثا بهم فتحا قريبا . ( الفتح : 18)
" Sesungguhnya Allah benar benar ridha kepada orang orang mu'min, ketika mereka berbai'at (berjanji setia) kepadamu bawah pohon.maka Allah mengetahui apa yang ada dihati mereka, kemudian Allah menurunkan ketenangan pada hati mereka dan memberi balasan untuk mereka berupa kemenangan yang dekat (waktunya) ". (QS. Al Fath: 18)
Ulama beda pendapat dalam menyikapi hukumnya bai'at. Ada yang mewajibkan dan ada yang menyatakan sunnah. Tapi pada prinsipnya bai'at itu adalah bagian dari syariat islam dan sunnah Nabi Muhammad SAW.
7 . Bagaimana hukumnya masuk salah satu thariqah Mu'tabarah dan mengamalkannya, apakah wajib atau sunnah atau makruh atau mubah? ...
Jawab: Kalau yang dikehendaki masuk thariqah itu belajar membersihkan hati dari sifat sifat yang rendah, dan menghiasnya dengan sifat sifat terpuji, maka hukumnya fardhu 'ain (wajib bagi setiap orang). Sebagaimana hadits Nabi SAW: "Menuntut ilmu diwajibkan bagi orang Islam baik laki laki maupun perempuan.
Tapi kalau yang dikehendaki masuk thariqah mu'tabaroh itu khusus untuk dzikir dan wirid, maka termasuk sunnah Rasulullah SAW. adapun mengamalkan dzikir dan wirid setelah bai'at. Maka hukumnya wajib untuk memenuhi janji. Dan tentang Mursyid / Muqaddam menalqinkan (mengajarkan) dzikir dan wirid kepada para murid maka hukumnya sunnah karena sanad thariqah kepada Rasulullah SAW itu sanad yang shahih. Keterangan ini diambil dari kitab Al Ma'ariful Muhammadiyyah hal.81 dan Al Adzkiya '. (Hasil keputusan Mu'tamar ke 1 Jam'iyyah Ahlu Thariqah Al Mu'tabarah An Nahdliyah di Tegal Rejo Tgl: 18 - 3 - 1377 H. / 12 - 10 - 1957 M.)
8 . Bagaimana hukumnya masuk dan mengamalkan wirid salah satu thariqah mu'tabarah, kemudian orang tersebut berhenti mengamalkan (keluar / batal thariqahnya), apakah ada sangsi / resiko bagi orang tersebut? ......
Jawab: Masuk thariqatul auliya 'yang dinyatakan dengan bai'at (ikrar janji setia kepada Allah SWT melalui Mursyid atau Muqaddam yang punya izin dan sanad Shahiih / sambung sampai ke Rasulullah) kemudian keluar / ingkar janji hukumnya dosa besar, bahkan terancam mati suul khatimah, karena dalam thariqah dan amalannya ada banyak asrar ar Rabbany (rahasia ketuhanan). Ibaratnya sama dengan orang masuk jadi anggota meliter kemudian desersi (lari dari tugas / berhenti) resikonya sangat besar, karena orang tersebut telah banyak tahu rahasia negara.
Lain halnya kalau hanya bekerja di perusahaan swasta, keluar masuk / pindah beberapa kali dalam sebulan tidak ada resikonya. Tapi kalau diterima jadi pegawai negri sipil saja misalnya, yang mana penerimaan tersebut melalui proses sumpah jabatan dan mendapat SK pengangkatan, orang tersebut tidak bisa seenaknya keluar begitu saja. Aapalagi diterima jadi anggota meliter, jangankan balelo, terlambat datang upacara saja sudah dihukum berat. Demikian juga masuk anggota thariqahnya Wali Allah, mereka sebenarnya masuk dalam barisan tentara Allah.
Lebih jelasnya silahkan telaah dengan cermat kitab Al Faidhur Rabbany yang disusun oleh Syaikh Umar Baidhawi Basyaiban halaman 27.
9 . Bagaimana hukumnya orang yang mengajarkan ilmu haqiqah, sedangkan ia sendiri tidak mengerjakan syariat agama Islam? ...

Jawab: Hukumnya haram dan menjadi sesat dan menyesatkan serta salah satu bentuk penyimpangan dalam Agama. Dan orang yang bertashawwuf tanpa mengamalkan syariat itu kafir zindiq. Sebaliknya orang yang melaksanakan syariat tanpa tashawwuf cenderung fasiq. (Keterangan diambil dari kitab Kifayatul Atqiya ') dari hasil Mu'tamar yang sama.